Sabtu, 08 Juni 2013

(FF-Senandung Cinta) Bejo ku

Ini hanya kisah rekaan saya saja ---> bukan kisah sebenar nya yaaa....:D

Foto di ambil di sini

" Rumah depan kita sudah ada yang beli, Shil", suara Ummi mengagetkanku yang sedang melihat dari jendela orang-orang  yang sibuk menurunkan barang dan perabot dari truk ke dalam rumah itu.
Pandangan ku terhenti ke sosok lelaki muda, yang berdiri mengatur orang-orang itu. Seperti nya usia nya tak jauh beda dengan usia bang Azzam, abangku sekitar 30 tahun-an. Badan nya tinggi, kekar dan tegap seperti tentara. Wajah nya bersih dan menawan, ehemmm ganteng sekali makhluk ciptaanMu itu ya Allah.
" Yang beli nama nya Kapten Bhirawa", suara Ummi lagi seperti nya tahu aku sedang memperhatikan orang nya.
" Sudah menikah apa belum, ummi?", tanya ku
" Ummi tidak tahu, kita lihat saja kalau ada perempuan di rumah itu berarti dia istri nya", jawab Ummi.
 Beberapa hari sejak kehadiran tetangga baru depan rumah itu. Aku selalu memperhatikan siapa saja penghuni rumah nya.
Dari pengamatan rasa 'ingin tahu' ku, dengan melihat sendiri dan mencari informasi dari uwak Ijah, pembantu rumah ku dan teman-teman pembantu nya di komplek ini.
Aku mendapat informasi yang membuat ku semangat untuk menyiram tanaman-tanaman herbal Ummi yang di tanam di luar pagar. Berharap mas Kapten keluar rumah dan melihat ku, karena ku tahu kalau penghuni rumah depan ku itu masih 'single' belum mempunyai istri.

--------------
Jum'at siang hari ini panas sekali, kuliah dua jam saja tapi lama nya di jalan  empat jam lebih, inilah ibu kota negeri ini yang macet nya tak bisa terurai, ingin rasa nya segera sampai di rumah merehatkan diri.
" Ciiiittttt", suara rem mercy hitam itu keras sekali hampir menabrak ku.
" Astaghfirullah, Waduuuuh hati-hati dong", teriak ku sambil memegang dada ketakutan.
Aku tak menyangka di jalan komplek ku yang banyak polisi tidur nya ini masih saja ada mobil yang ngebut.
Tiba-tiba mercy hitam itu berhenti, ketika pintu sopir itu di buka ku kenal sekali wajah nya, iya ga salah lagi, dia mas Kapten, tetangga depan rumah ku. Rasa marah yang hampir ku lampiaskan ke pengendara mercy itu, hilang seketika melihat wajah nya.
" Maaf, maaf ya mbak, saya buru-buru mau jum'atan...tidak melihat ada mbak tadi di jalan", kata nya memohon maaf padaku.
" Hmm, ga pa pa mas....saya tetangga depan rumah mas, saya Shila Humaira panggil saja Shila", jawab ku gugup antara senang dan kaget.
" Sekali lagi maaf ya mbak, saya buru-buru...", kata mas Kapten sambil menelungkupkan tangan nya dan pamit pergi menuju mercy nya lagi.
Kulihat kepergian mercy itu sampai hilang ke tikungan jalan komplek ini, rasa nya ingin sekali lisan terucap lebih banyak bersama nya. Ahh, semoga itu segera.

------------
Entahlah, waktu rasa nya berjalan lama sekali. Andai jam dinding bisa bicara, ingin rasa nya meminta nya membunyi kan alarm ketika mas Kapten mau keluar dari rumah nya dan aku bisa melihat wajah nya dari jendela kamar ku di lantai 2 ini.  Ku rasa kan hari demi hari  gelisah  tak terkira, kalau saja ku tahu nomor HaPe atau nomor telepon rumah mas Kapten, aku akan pura-pura salah sambung biar bisa berkenalan  lebih dekat dengan nya. Dan tak akan ku buat sepucuk surat bukan surat cinta hanya surat perkenalan seperti yang akan kutuliskan ini.

Salam

Apa Kabar Hari ini Mas Kapten Bhirawa?
Saya Shila, tetangga depan rumah yang kemarin hampir di tabrak mobil mas Kapten

Selamat datang di komplek ini, semoga betah dan senang tinggal di sini.
Boleh kah saya bersilaturahim ke rumah?

Shila Humaira


Setelah ku masuk kan ke amplop warna oranye, langsung ku panggil uwah Ijah untuk menyampaikan surat itu ke tetangga depan rumah ku, mas Kapten.
Senang rasa nya hati ini, ternyata surat ku tak menunggu lama di balas mas Kapten, uwak Ijah di suruh menunggu di rumah mas Kapten yang langsung menulis untuk membalas surat ku.

Salam

Alhamdulillah kabar hari ini luar biasa, Shila
Maafkan ya kejadian tempo hari, semua karena khilaf

Semoga Shila memaafkan kami

Terima kasih sambutan nya, Aamiin
Silahkan, saya tunggu di rumah ya

Kapten Bhirawa


Ku baca berkali-kali surat balasan mas Kapten, tak sabar rasa nya segera bersilaturahim ke rumah nya sambil membawa hantaran masakan istimewa Ummi.

------------------
" Shil, sampai kan salam Ummi buat Kapten Bhirawa yaa", pesan Ummi sambil menyerahkan dua rantang berisi sop iga bakar dan opor ayam kampung masakan nya pada ku.
" Iya Ummi", jawab ku yang sudah siap juga dengan kerudung pink favorit ku dan bros bunga ungu yang baru ku beli. ."Yuuk, wak kita berangkat", ajak ku ke uwak yang sudah siap juga menemani ku.
Tok  Tok Toook
" Assalamu'alaikum", uwak Ijah mengetuk pintu pagar dan mengucap salam ke rumah mas Kapten.
" Wa'alaikumsalam", jawab suara dari dalam rumah, suara yang sama dengan pengendara mercy hitam yang kemarin hampir menabrak ku.
Tidak menunggu lama, segera mas Kapten membuka pintu pagar rumah nya dan mempersilahkan kami masuk, tak lupa ku serah kan rantang makanan yang sudah di buat oleh Ummi.
" Silahkan duduk mbak, buk....mau minum apa?", sambut nya ramah sekali.
" Ga usah repot-repot mas....air putih saja", jawab ku
" Tunggu sebentar ya", pamit mas Kapten menuju ke dalam rumah.
Ku pandangi rumah mas Kapten, di ruang tamu ini terpasang foto keluarga yang terdiri dari sepasang kakek dan nenek, dengan dua pasang laki-laki dan perempuan dan tiga orang anak, dan tidak ada foto mas Kapten.
Tiba-tiba keluar lah seorang laki-laki tua dengan kursi roda nya dari dalam kamar rumah mas Kapten.
" Shila ya...", tanya laki-laki tua di kursi roda itu.
" Iiiiyaaaa kek...eee iyaa paak", jawab ku kaget karena tak tahu ternyata ada yang tinggal di rumah ini selain mas Kapten.
" Kenal kan saya Kapten Bhirawa dari Surabaya, yang duduk di sebelah saya itu istri saya...yang berdiri di sebelah kanan itu  anak laki-laki pertama saya dengan istri dan dua anak nya dan yang berdiri di belakang saya itu anak laki-laki kedua saya dengan istri dan satu anak nya", kata pak Kapten Bhirawa sambil menunjuk ke foto keluarga di ruang tamu ini.
" Mereka semua di mana pak?", tanya uwak Ijah sedangkan aku masih bingung dengan hal ini dan belum bisa bicara.
" Istri saya tiga bulan yang lalu meninggal dan dua anak laki-laki saya sekarang tinggal di luar negeri", jawab nya sambil berkaca-kaca.
Dan tak berapa lama keluarlah bukan mas Kapten sambil membawa empat gelas minuman dan kue-kue di piring. Dengan sigap bukan mas Kapten menyajikan minuman dan makanan itu di meja ruang tamu.
" Kenal kan nak Shila....ini Bejo, yang bantuin saya sejak lumpuh dua tahun yang lalu," tunjuk pak Kapten Bhirawa ke bukan mas Kapten eee Bejo.
" Saya Bejo, mbak Shila....", tangan nya menelungkup di dada memperkenal diri.
Aku pun menelungkupkan tangan, dengan setengah senyum masih kaget dan bingung.
Aku pun masih tak bisa melepas mata dengan pesona laki-laki yang santun ramah dan menawan itu.
Dan aku pun masih berharap lisan bisa sering bertutur dengan lelaki bejo-ku.


Cerita ini di ikutsertakan pada flash Fiction Writing Contest : Senandung Cinta











5 komentar:

  1. Format pendaftaran agar disesuaikan dengan ketentuan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sampun pakdhe....'done'
      Monggo di pun pirsani.....Maturnuwun

      Hapus
  2. Sami2 Pakdhe....

    Salam kembali dari sy dan keluarga di (pinggir) selatan Jakarta....:)

    BalasHapus
  3. wow, akhirnya benar2 kejutan... :) ira

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, ending nya bisa bikin njenengan 'terkejut' mbak Ira...^_^

      Hapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...