Tampilkan postingan dengan label Giveaway. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Giveaway. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Februari 2016

[Giveaway] Penulis Cerdas, Menulis Untuk Kebaikan dan Kemaslahatan Bersama

"Dengan nikmat berfikir dariNya, menulislah untuk kebaikan dan pengingat raga. Tak ada yang sempurna dari seorang hamba, dengan membaca tulisan bermakna. Semoga paham dan kerjakan semua perintah dan larangan dariNya"

Menulis tak lepas dari sebuah kegiatan membaca. Dan membaca pasti akan membutuhkan buku sebagai media untuk dibaca. Aktivitas membaca adalah kegiatan utama  seorang anak yang  masuk ke jenjang pendidikan dasar, baik yang formal (sekolah) maupun non formal (TPQ, les berenang, les memanah, dll). Membaca akan menambah pengetahuan dan ilmu baru. Dari membaca akan muncul  sebuah pemahaman dan perintah atau larangan untuk mengerjakan sesuatu.

Dengan membaca akan ada dorongan untuk menulis, itulah pengalaman saya. Mulai dari menulis di catatan harian sampai di era digital ini, menulis di blog/web pribadi.

Membaca dan menulis di Indonesia bukan merupakan suatu kebutuhan bagi masyarakatnya, sangat berbeda dengan negara maju (kualitas hidupnya) yang masyarakatnya gemar membaca. Kepala Kantor Perpustakaan Nasional RI, Sri Sularsih mengatakan di negara maju masyarakatnya  membaca buku antara 20 sampai 30 judul buku pertahun. Sementara itu, minat baca masyarakat Indonesia paling banyak hanya tiga judul buku dan itupun masyarakat usia 0-10 tahun. (91 persen penduduk Indonesia tidak suka membaca, Republika 28/10/2015).

Dan yang menarik untuk dijawab, apakah 91 persen penduduk Indonesia yang tidak suka membaca itu adalah saya? Yup, tidak salah. Saya memang termasuk 91 persen penduduk Indonesia yang malas untuk membaca. Adanya portal online dan pesatnya perkembangan gadged  membuat saya malas untuk menyimak dengan tekun buku-buku yang harusnya dibaca. Tulisan-tulisan broadcast yang ditulis dan beredar viral di sosmed memanjakan saya untuk tidak menyentuh buku-buku karena sudah ada yang membaca dan menulis review nya. Hmm, sebuah kebiasaan yang tidak bagus bagi saya sendiri dan masyarakat negeri ini yang ingin seperti negara-negara yang sudah maju.


Budaya membaca dan menulis  merupakan tuntunan bagi seorang muslim. Ayat pertama Al Qur'an diturunkan kepada Rasulullah SAW adalah perintah untuk membaca.


"Bacalah dengan (menyebut) nama Robb-mu Yang menciptakan " 
[TQS. Al Alaq : 1]

Sebuah buku bisa dibaca karena dihasilkan oleh penulis. Tidak akan ada yang bisa kita baca, tanpa ada buku-buku sebagai bahan bacaan. Secara tidak langsung, perintah membaca dari Allah kepada Rasulullah SAW dan umatnya juga untuk menulis.

"Nuun. Demi pena (qalam) dan apa yang mereka tulis". 

[TQS. Al Qalam : 1]

Al Qur'an dan terjemahan nya  tak lepas dari usaha para shahabat sepeninggal Rasulullah SAW untuk mengumpulkan dan menuliskan dari lembaran-lembaran juga hafalan-hafalan para shahabat. Begitupun dengan hadist Rasulullah SAW yang menjadi tuntunan dan teladan hidup umat Islam. Abu Hurairah adalah shahabat Rasulullah yang selalu mendampingi Beliau semenjak menyatakan diri masuk Islam. Tak bisa terlupakan jasa Abu Hurairah karena banyak meriwayatkan hadist yang didengar maupun dilihatnya langsung dari Rasulullah SAW. Namun, ada seorang shahabat lain yaitu Abdullah bin 'Amr bin al 'Ash yang mempunyai catatan tentang hadist Rasulullah SAW. Dan Abu Hurairah mengatakan,"Tidak ada satupun dari sahabat Nabi SAW yang lebih banyak (mengumpulkan) hadist dariku kecuali Abdullah bin 'Amr bin al 'Ash. Karena ia menulis (hadits) sedang aku tidak".


Semangat menulis para shahabat terus menjadi kebiasaan kaum muslimin. Dan mencapai kegemilangan ketika khalifah Harun Al Rasyid dan khalifah Ma'mun (dinasti Abbasiyah) berkuasa. Pada masa itu banyak ulama yang pandai mengajar di majelis-majelis ilmu sekaligus sebagai penulis. Salah satunya, Imam Ath Thabari (224-310 H) yang menulis tafsir Ath-Thabari  sebanyak 24 jilid (sekitar 30.000 halaman) dan tarikh Ath-Thabari sebanyak 8 jilid (3000 halaman). Dan masih banyak lagi para ulama zaman peradaban Islam gemilang berhasil menuliskan karya-karya tulisan yang tujuan nya untuk menyampaikan kebenaran dan mengagungkan Allah di bumi milikNya ini.

Mungkin masih sangat jauh sekali, jika aktifitas saya menulis  dibandingkan dengan para ulama yang sudah terbukti dengan karya-karyanya. Tetapi semangat dan niat para ulama dengan tintanya tersebut, in sya Allah menjadi motivasi bagi saya untuk menulis kebaikan yang bisa dibaca manfaatnya (oleh para pembaca).


Buku-buku  koleksi pribadi

Dalam hal menulis, saya masih perlu banyak belajar. Di era digital menyampaikan sebuah kebenaran dan kebaikan memerlukan kecerdasan dan kepiawaian dalam merangkai kalimat yang pesan nya sarat makna. Menjadi  smart writer, saya perlu belajar dari para penulis yang sudah banyak menulis buku fiksi maupun non fiksi. Mbak Riawani Elyta dan mbak Leyla Hana, adalah penulis buku yang karya-karya  nya sudah saya koleksi dan baca. Buku-buku karya mereka bisa ditemui di etalase toko-toko buku di tanah air. Semoga, saya pun bisa menuliskan tentang kebaikan dan pengingat  nikmat hidupNya dalam sebuah buku, aamiin.







Baca Selanjutnya ...

Sabtu, 17 Oktober 2015

Hijab (yang) Nyaman di Hati, Taati PerintahNya (yang) Syari

" Hamba tahu jannahMu tak mudah untuk di tuju  dan hamba tahu nerakaMu tak sanggup diri bertemu. Semoga aurat yang tidak lagi terbuka, menambah amal baik nanti di yaumul hisab yang pasti hamba bersua...."

Tahun 2000-an
Saya mulai berhijab di lingkungan yang sangat mendukung bagi muslimah untuk menjalankan kewajiban nya menutup aurat. Di lingkungan kampus saya saat itu, sangat mudah di temui muslimah  berhijab. Kebanyakan teman-teman muslimah (termasuk saya) datang ke kampus belum menutup aurat, ketika belajar dan  berinteraksi dengan kakak kelas muslimah yang sudah berhijab, membawa pengaruh positif kepada kami (mahasiswi muslim baru) untuk mengikuti menutup aurat yang belakangan setelah saya belajar Islam Kaaffah adalah sebuah kewajiban bagi seorang muslimah.

" Janganlah mereka menampakkan perhiasan nya, kecuali yang (biasa) tampak pada diri nya. Hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada nya " 
[TQS. An Nur : 31]


" Hai nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin," Hendaklah mereka mengulurkan jilbab nya ke seluruh tubuh mereka" "
 [ TQS. Al Ahzab : 59]


Dua ayat tersebut cukup membuat saya mengerti dan akhirnya harus taati. Beberapa bulan setelah menutup aurat di kampus, saya pun berhijab syar'i dengan memakai jilbab (gamis orang awam menyebutnya ^_^) dan khimar (kerudung). Tahun 2000 memakai hijab syar'i tidaklah banyak seperti saat ini.
Tingkat 2 saat kuliah, di usia belum genap 20 tahun saya memakai baju panjang yang longgar yang identik dengan baju daster nya emak-emak padahal saya belum emak-emak, hehehe.

Bismillah....
Saya mulai beraktivitas di luar rumah dengan berhijab syar'i. Saat itu di luar rumah adalah dunia kampus, di mana jurusan yang saya ambil adalah jurusan yang beberapa mata kuliah nya harus outdoor, ke tempat praktek langsung sesuai dengan mata kuliah yang saat itu saya ikuti.
Biologi laut salah satu mata kuliah yang wajib saya ambil dengan praktek langsung dua hari di Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu. Asyiiik, maen-maen ya travelling seperti yang sedang trend sekarang. Bukaaaan, hehehe. Di Kepulauan Seribu, tepatnya di Pulau Pramuka saya dan teman-teman mengamati semua biota yang ada di perairan. Biota tersebut apakah masih hidup di kelayakan lingkungan laut yang ideal. Jika telah terjadi kerusakan lingkungan maka kawasan perairan tersebut perlu untuk di konservasi. Kedengaran nya keren ya, memang seperti itulah mata kuliah yang ada di kampus saya saat itu. Dan ketika beberapa program televisi saat ini mengulas dan membahas keanekaragaman hayati khusus nya yang ada di perairan. Kemudian di kemas menarik secara  entertaint, hasil nya memang menjual dan banyak sponsor  di program televisi tersebut. Alhamdulillah, tidak hanya saya dan teman-teman  yang belajar tentang hal itu tahu dan sadar, para pemirsa program televisi  tersebut akhirnya juga tahu bahwa Indonesia tercinta ini adalah negeri bahari yang kaya dan melimpah keanekaragaman hayati nya.

Lhoooo.....saya jadi menulis tentang pengalaman belajar saya, bukan tentang hijab syar'i yang saat itu alhamdulillah sudah terpakai rapi, hehehe.

Kembali ke pengalaman saya dengan hijab syar'i. Dengan pakaian yang sudah menutup aurat, berarti semua aktivitas sehari-hari baik di kampus maupun di rumah kost (harus) di sesuaikan dengan aturan syar'i. Kajian-kajian Islam Kaaffah saya pelajari selain belajar ilmu dunia di kampus. Interaksi dengan lawan jenis hanya ada di kehidupan umum (kampus, warung, toko, pasar, kendaraan umum, dll) bahkan di rumah kost lawan jenis yang bukan muhrim di larang menelepon  lebih dari seperempat jam dan membahas masalah pribadi. Hmmm, terkekang tidak nyaman tidak suka karena jadi tidak gaul. Mungkin beberapa teman merasa seperti itu. Alhamdulillah bagi saya biasa saja aka tidak apa-apa. Saya merasa di untung kan dengan aturan interaksi yang bagi teman-teman aneh dan tidak mahasiswi (baca. mengekang pergaulan) namun bagi mbak-mbak di rumah kost adalah aturan sesuai syari. Mengapa saya merasa nyaman? Jawabnya adalah saya bebas dan aman dari pria kesepian penebar virus PHPan, hehehe.
Aturan-aturan syari memang saat ini terdengar asing, yach memang karena akan ada benturan jika di sampaikan dan diterapkan karena telah lama sekali bahkan sejak nenek moyang kita di sini, belum mendengar bahkan asing dengan aturan Illahi. Alhamdulillah Islam menjadi keyakinan mayoritas negeri ini, tetapi Islam sebagai aturan hidup belum banyak umat Islam memahami nya.



Tahun 2004 - 2005 : Saya dan teman-teman di kampus



Kok saya mau menerima aturan syari dan mempelajarinya, bukan kah itu adalah pemahaman baru. Jangan-jangan saya sudah di brain washing, hehehe.
Sederhana saja bagi saya, ketika belajar Jalan Menuju Iman dan banyak contoh-contoh tentang kebesaran Allah SWT dan manusia sebagai makhlukNya ternyata banyak kelemahan dan kekurangan. Dan ketika tiga pertanyaan besar manusia (termasuk saya) sering muncul di kepala yaitu : Dari mana manusia berasal ; Untuk apa manusia hidup; Dan akan kemana setelah manusia hidup. Jawaban nya adalah Allah.

Saya pun tak bisa mempunyai hujjah (alasan) ketika ternyata ada ayatNya yang membahas wajibnya menutup aurat bagi muslimah.

" Dari sekian banyak nikmat dunia, cukuplah Islam sebagai nikmat bagimu. Dari sekian banyak kesibukan, cukuplah ketaatan sebagai kesibukan bagimu. Dari sekian banyak pelajaran, cukuplah kematian sebagai pelajaran bagimu". [ Nasehat Ali bin Abu Thalib ra.]


Lillahi Ta'ala.....
Berpakaian syari adalah sebuah kewajiban, jika ada halangan jadikan itu sebagai proses kehidupan yang terus berjalan. Walaupun syiar hijab syari sudah semarak di mana-mana dan mudah melihat muslimah baik muda maupun tua memakai nya. Namun, masih saja perlu untuk di kembalikan lagi niat kita menutup aurat hanyalah untuk Allah SWT semata.
Hijab syari saat ini nampak semarak karena bagus dan indahnya fashion yang mengikuti nya. Di situlah sebenarnya ujian bagi muslimah (termasuk saya) untuk meluruskan niat, berhijab syari hanya untuk taat perintah Illahi. In sya Allah

Hampir 15 tahun saya berhijab syar'i. Tantangan dan rintangan saya memakai nya tentu tidaklah sedikit. Apalagi saat itu saya berhijab syari dengan status sebagai jomblowati. Kekhawatiran orang tua akan masa depan pasti ada, manusiawi. Alhamdulillah, ketika saya belajar ilmu 'yakin' tawakal dan percaya Allah Maha Mengatur urusan makhluk ciptaanNya, sutradara terbaik yang ada di alam fanaNya ini, semua nikmat umurNya masih bisa saya nikmati dengan hijab syari yang selalu menemani sehari-hari.



Buku kumpulan pengalaman awal berhijab syar'i
Salah satu nya pengalaman saya


Saling memberi semangat dan motivasi  adalah suplemen dan imun untuk memunculkan secara kontinu terus menerus bagi saya untuk selalu taat berhijab sesuai syariat.
Alhamdulillah, beberapa kisah (based on true story)  pengalaman awal berhijab syari mulai dari tantangan dan bagaimana bisa bertahan dengan pilihan  hati untuk selalu berhijab syari tertulis dalam sebuah buku ini.



Alhamdulillah, testimoni neng Angie (selebgram)
setelah membaca buku The True Hijab


" Alhamdulillah Yaa Rabb, Nikmat hidupMu masih bisa hamba nikmati, mohon selalu jaga iman di hati, untuk selalu taati aturanMu sampai ajal menanti..."

Sukses untuk GA nya ya mbak Ruli. Semoga sedikit kisah saya berhijab syari bisa menambah keyakinan kita bahwa Allah sayang dengan hambaNya dan kita menjadi hambaNya yang kelak mudah untuk mendapatkan tiket menuju jannahNya, aamiin.







Baca Selanjutnya ...

Jumat, 24 Oktober 2014

Salam Hangat Tetap Semangat Wahai Ibu Hebat

Dari Abi Umamah ia berkata: “Ada seorang lelaki berkata: “Ya Rasulullah, apakah hak kedua orang-tua atas anak mereka?” Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Keduanya (merupakan) surgamu dan nerakamu. (HR. Ibnu Majah)

Hadist di atas adalah pengingat kita, sebagai orang tua dalam mendidik anak-anak pada saat ini di mana agama (kebetulan saya adalah muslim) sudah tidak di terap kan dalam kehidupan sehari-hari.

Pfhhhhh.....
Saat ini, melihat tayangan berita di televisi tentang kondisi terkini, membuat hati menangis dan sedih. Kerusakan moral yang semakin banyak, tidak hanya  terjadi pada usia remaja saja tetapi sudah menjangkau usia SD dan prasekolah (PAUD).
Kekerasan seksual anak, kenakalan anak sampai pembunuhan anak yang dilakukan oleh teman nya yang juga masih anak-anak. Astaghfirullah.

Fakta-fakta yang sudah terjadi di sekitar kita itu adalah pekerjaan rumah buat pemerintah, lingkungan dan keluarga.

Di lingkungan keluarga, peran terpenting mendidik anak-anak adalah kedua orang tua, ibu dan bapak. Saya sengaja tidak menulis, hanya ibu lah yang berperan mendidik anak, karena (menurut saya) peran bapak juga penting untuk membentuk karakter seorang anak.

Ketika seorang perempuan sudah melahirkan seorang anak, maka dia sudah menjadi ibu. Dan Islam pun memulikan posisi perempuan yang sudah menjadi ibu.

Rasulullah saw bersabda:“…Tak ada seorangpun perempuan yang hamil dari suaminya, kecuali ia berada dalam naungan Allah azza wa jalla, sampai ia merasakan sakit karena melahirkan, dan setiap rasa sakit yang ia rasakan pahalanya seperti memerdekakan seorang budak yang mukmin. Jika ia telah melahirkan anaknya dan menyusuinya, maka tak ada setetes pun air susu yang diisap oleh anaknya kecuali ia akan menjadi cahaya yang memancar di hadapannya kelak di hari kiamat, yang menakjubkan setiap orang yang melihatnya dari umat terdahulu hingga yang belakangan. Selain itu ia dicatat sebagai seorang yang berpuasa, dan sekiranya puasa itu tanpa berbuka niscaya pahalanya dicatat seperti pahala puasa dan qiyamul layl sepanjang masa. Ketika ia menyapih anaknya Allah Yang Maha Agung sebutan-Nya berfirman: ‘Wahai perempuan, Aku telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu, maka perbaruilah amalmu’.” (Mustadrak Al-Wasail 2: bab 47, hlm 623)

Daaaan....
Dengan adanya dunia lain selain dunia nyata, yaitu dunia maya. Informasi yang dibutuhkan ibu untuk mendidik anak-anak nya sesuai dengan karakter yang di inginkan sangat mudah di dapat. Dengan bantuan mesin pencari mbah google, seorang ibu bisa saling berbagi informasi tentang tumbuh kembang anak dan cara mendidik anak.
Itu untuk hal yang positif nya.

Daaaan...
Ketika saya baru membuka salah satu dari tiga akun sosmed ( fb, twitter dan blog) yang saya miliki, di beranda nya muncul aktivitas-aktivitas yang saling bertolak belakang dan (menurut saya) ada muatan tersembunyi dari status dan foto yang di upload teman saya itu *halaaah, sok tahu saya hehehe*
Kebanyakan teman-teman di sosmed saya memang ibu-ibu, jadi yang di tulis mereka tidak jauh dari dunia parenting dan obrolan sehari-hari ibu-ibu.

A ==> " Horrray, asyiiik jalan-jalan di bawah mekarnya bunga sakura" (Status seorang teman yang kebetulan WM)

B ==> " pagi-pagi nyopir antar anak-anak sekolah, owh nikmat nya menjadi seorang ibu di rumah" ( Status seorang teman yang kebetulan FTM)
Monggo, silahkan masing-masing memiliki persepsi sendiri untuk dua status di atas, bebas dan boleh-boleh saja.

menurut saya, dua status itu bisa bermakna berbeda ketika di baca oleh ibu yang kebetulan tidak di posisi yang sekarang mereka miliki.
Iyeeees, itulah negatif nya dunia maya.

...Dulu, kami saling menguatkan saat nyinyiran soal ibu bekerja itu datang. entah dari status facebook atau tulisan blog teman yang terbaca oleh kami. sebentar lagi situasi akan berubah, kami akan berada pada 'kubu' yang berbeda. Inilah saatnya kami membuktikan komitmen bahwa kami saling menghargai dan menyemangati (hal 158, Farewell Dua Mama, catatan mama Arin, Mommylicious)

Sebelum membaca quote keren dari mama Arin, saya sudah setahun lebih tidak menulis status di sosmed yang saya miliki tentang keseharian saya sebagai FTM. Begitupun tentang dokumentasi pribadi (anak-anak dan keluarga),  sudah dua tahunan tidak saya upload terutama di fesbuk.

Ada beberapa hal yang akhirnya saya memang harus bisa berinteraksi yang positif di dunia maya. Salah satunya ketika membaca status salah satu teman saya di fesbuk.

Tetap bijak dalam bertutur di sosial media. Karena selain malaikat yg selalu mencatat, akan ada byk orang yg siap2 capture/screenshot postingan kita. Bahkan smpai kita meninggal, smua apdet status dan komen2 kita akan tetap ada dan bisa dilihat siapa saja. Ya kan? (Ihsanul Muttaqien status)

Betuuull....
Sikap itulah yang seharusnya di miliki oleh kita, para ibu ketika berinteraksi di dunia maya. Tidak ada status ataupun komen yang akhirnya melukai masing-masing kubu. Selalu saling menghargai posisi yang dipilih saat ini dan pastinya saling mensuport pilihan masing-masing.

Karena memang tanpa kita sadari, sejak zaman Rasulullah ada beberapa shahabiyah yang juga berprofesi di kehidupan umum (bermuamalah) seperti Asy-Syifa binti Abdullah (Seorang guru salah satu murid nya adalah Hafshah binti Umar bin Khattab, perawi hadist, ahli pengobatan khususnya kejiwaan, ahli ruqyah), Fatimah binti Yahya (Seorang guru yang hidup pada abad ke- 9 H, ahli hadist dan mujtahidah) , Asma binti yazid (seorang guru, perawi hadist dan ahli fikih) dan masih banyak lagi kita temukan peran muslimah di kehidupan umum, jika kita mempelajari siroh/sejarah tentang kejayaan peradaban Islam selama 14 abad.

Kita masih membutuhkan kelembutan tangan dan lisan yang keibuan seorang perempuan di kehidupan umum. Begitulah keadilan Islam, mubah nya seorang wanita bekerja di luar rumah, harusnya kita (perempuan) apresiasi untuk memberikan ilmu (keahlian) yang kita  miliki  untuk kemaslahatan umat.

Akhirnya....
Ketika saat ini saya ada di posisi bekerja di rumah. Alhamdulillah diberikan (baru) empat amanahNya adalah amanah yang berat di jalani di jaman ini. Sistem kehidupan yang cenderung sekuler berkiblat ke kehidupan barat yang bebas. Selama puluhan tahun, mencapai klimaksnya saat ini dengan banyak nya degradasi moral yang di lakukan oleh anak-anak generasi muda negeri ini.

Bismillah, inilah empat amanahNya yang dititipkan kepada saya dan suami
Foto. dokumentasi pribadi
Tugas mendidik anak tidak bisa seratus persen dalam pengawasan saya, untuk itulah ke-empat anak amanahNya sudah saya ikutkan belajar di sekolah (berbasis agama yang di kelola komunitas) untuk belajar dengan ibu guru yang sholehah.
Para ibu guru yang sudah menikah dan memiliki anak, tentu nya harus bisa me-manage waktu antara mendidik anak sendiri dan anak-anak ibu yang lain.
Hal itulah yang membuat saya mempunyai empati dengan keadaan WM, dan mencoba sangat menahan diri untuk tidak membuat status yang mengundang perih di hati ibu-ibu yang tidak pada posisi saya (FTM). *sakitnya tuch di sini <--- nunjuk mata, karena terlanjur membaca, hehehe*

Tak lupaaa....
Saya selalu doakan kepada anak-anak kita kepada Allah Yang Maha Besar
Yaa Hafizh Yaa Waliyy Yaa Malikul Mulk
Engkaulah Maha memelihara, Maha melindungi dan Maha menguasai alam semesta
Tiada daya dan upaya dari segala rupa kedholiman di dunia

Selain kami bergantung hanya padaMu
Jadikanlah anak-anak kami selalu mendapat petunjukMu
Untuk berjalan di jalan lurusMu
Lindungilah amanah-amanahMu ketika tidak bersama ibunda nya
Jauhkanlah anak-anak dari segala bujuk rayu syetan yang selalu menggoda
Ya Allah, Yaa Tuhan kami berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan akhirat
Serta peliharalah kami dari siksa api neraka
Aamiin Yaa Robbal Alaamiin


Salam hangat dan tetap semangat wahai semua ibu yang hebat.
Tugas kita mengantar anak-anak masih panjang, marilah kita saling berbagi kebaikan fastabiqol khairot. Semoga sedikit kebaikan yang bisa kita berikan di catat oleh malaikat, karena inilah kodrat yang sudah di takdirkan olehNya, menjadi ibu yang selalu dituntut jaman untuk tetap belajar ilmuNya.

Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Every Mom Has A Story #stopmomwar








Baca Selanjutnya ...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...